profil penulis

Latar Keluarga

Muhammad Firdaus, penulis lahir di Idi, Aceh Timur dari keluarga yang sederhana. Firdaus merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara, yang terdiri dari 3 laki laki dan 2 perempuan. Ayah sebagai kepala desa juga pegawai di salah satu sekolah SD di desa kami (dulu PNS biasa mencalonkan sebagai kepala desa). Sedang ibunya lebih fokus dirumah sembari sesekali mendapat pesanan kue dalam acara tertentu selebihnya ibunya fokus mendidik dan menjaga anaknya. Semua saudara Firdaus kini telah bekerja di beberapa instansi pemerintahan Aceh Timur tergantung bidangnya masing-masing. Sebagai anak bungsu sudah lazim dan lumrah dimaja oleh orang tua dan saudara, begitu juga dirinya. Namun sekalipun dimanja, orang tua dan saudaranya tetap sering diingatkan tentang cita-cita dan juga terus dibimbing dengan motivasi-motivasi yang dimiliki masing-masingnya sesuai dengan pengalaman yang pernah dialami oleh orang tua dan saudaranya.

Pendidikan

Hari-hari pemuda ini sejak kecil dipenuhi dengan aktivitas-aktivitas pendidikan, dimulai dari pagi sampai siang sekolah di SD dekat rumah, kemudian siang hingga sore belajar di TPA (tempat pengajian Al-quran) kemudian malamnya kembali ke TPA tersebut untuk belajar kitab kuning. di sekolah, Firdaus tergolong anak yang mempunyai prestasi bagus, juga selalu masuk kedalam 3 besar di kelasnya. Di TPA, ia juga sebagai sosok yang giat belajar dan aktif mengikui lomba yang diadakan setiap tahunnya, baik di TPA maupun antar TPA di kecamatannya. Sesekali ia juga mendapat juara dalam lomba tersebut.

Setelah lulus dari SD, lelaki ini melanjutkan sekolah ke kota yaitu MtsN model idi (Mtsn 2 aceh timur). Berbeda dengan saudaranya yang lain yang sekolah di sekolah SMP (umum) ia di bawa oleh orang tua untuk sekolah di MtsN (agama). Disana karakter dan mindsetnya perlahan terbentuk untuk menjadi pribadi yang islami dengan pelajar-pelajar agama yang banyak disamping yang didapat di TPA. Sejak awal memang oleh orang tua, anak bungsu ini dididik untuk lebih cenderung ke Pendidikan agama, karna tujuan orang tua agar anaknya yang satu ini kelak menjadi seorang yang paham agama disamping cita-citanya. Masuk pesantren adalah jenjang Pendidikan Firdaus setelah tamat dari Mtsn. Di pesantren yang basis Pendidikan agama dengan sekolah MA setara SMA, menjadikan Pendidikan agama semakin kuat dalam dirinya.

penulisan

Dalam pesantren lah awal mula firdaus suka menulis. Berawal dari membaca buku-buku islam dan juga sering membaca koran yang masuk ke pesantren. Karna tulisan adalah bentuk ekspresi dari hasil bacaan. Maka jenjang kedua setelah membaca adalah menulis. Hasil tulisan firdaus juga beberapa kali masuk ke dalam mading pesantren. Dan juga pernah mengikuti sayembara menulis karya ilmiah yang diadakan oleh Ikatan Penulis Santri Aceh dengan tema “perspektif santri dalam menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan dan ekonomi”. Dalam mengikuti sayembara menulis inilah, pemahaman ia belajar menulis yang dibimbing khusus oleh seorang guru. Meskipun tidak menjadi pemenang, namun dari sinilah bekal ia menulis.

Kemudian kemampuan menulis terus ditempa firdaus setelah lulus dari pesatren. Sehingga, untuk mengasah kemampuannya agar terus menulis, ia membuat sebuah website dengan tema “pengetahuan islam” dengan judul “mudahnya islam”. Ide tersebut muncul berkat beberapa orang kerabat yang menyarankannya. Berkenaan dengan judul, firdaus memang bertujuan untuk mengubah mindset atau pandangan orang tentang islam itu sulit kepada islam itu sebenanya mudah, tergantung cara orang memandangnya saja. lebih lanjut di filosofi mudahnya islam

Dalam dunia website, firdaus pernah mengikuti sebuah event workshop yang diselenggarakan oleh kuala lumpur wordpress meet up di Cyberjaya, Malaysia.