pengertian secara umum

al-quran merupakan sumber hukum utama dalam islam, maka wajib bagi umat islam untuk bisa membaca al-quran. Sekalipun al-quran diturunkan dalam Bahasa arab, namun cara membacanya tidak sepenuhnya seperti Bahasa arab. Untuk bisa membca al-quran kita harus belajar tajwid bukan belajar Bahasa arab. Seseorang yang lancar Bahasa arab tapi tidak memahami tajwid tidak akan bisa membaca al-quran secara sempurna. “Belajar tajwid hukumnya fardhu kifayah, sekalipun begitu Membaca al-quran dengan menggunakan tajwid hukumnya wajib”. Seseorang wajib membaca al-quran dengan menggunakan tajwid, walaupun belajar tajwid merupakan fardhu kifayah.


Tajwid menurut bahasa berasal dari kata جوّد-يجوّد-تجويدا yang berarti bagus atau membaguskan. Dalam ilmu Qiraah, tajwid berarti mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat-sifat yang dimilikinya. Jadi ilmu tajwid adalah suatu ilmu yang mempelajari bagaimana cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci al-Qur’an.


Al-quran merupakan firman Allah yang diturunkan melalui malaikat Jibril kepada nabi Muhammad untuk kemudian disampaikan kepada seluruh umat manusia sebagai penerang jalan kehidupan. Oleh karena itu, seorang muslim tidak boleh semena-mena dalam membaca al-quran. ada adab serta tajwid yang harus dipelihara dalam membaca al-quran. Ilmu Tajwid bertujuan untuk memberikan tuntunan bagaimana cara pengucapan ayat yang tepat, sehingga lafal dan maknanya terpelihara. Pengetahuan tentang makhraj huruf memberikan tuntunan bagaimana cara mengeluarkan huruf dari mulut dengan benar.

Pengetahuan tentang sifat huruf berguna dalam pengucapan huruf. Dalam ahkamul maddi wal qashr berguna untuk mengetahui huruf yang harus dibaca panjang dan berapa harakat panjang bacaannya. Ahkamul waqaf wal ibtida’ ialah cara untuk mengetahui dimana harus berhenti dan dari mana dimulai apabila bacaan akan dilanjutkan.

Huruf hijayyah

Sebelum kita belajar lebih jauh, kita harus paham dulu huruf-huruf yang terdapat di dalam al-quran. huruf ini dinamakan huruf hijaiyah dengan jumlahnya ada beberapa pendapat ulama, yaitu 28, 29, 30 dan 31. Setiap ulama mempunyai persepsi tersendiri menurut cara pengelompokan huruf tersebut. Namun, pada hakikatnya ketiganya sebenarnya hanya didasarkan pada menghitung huruf tertentu sebagai satu huruf yang mandiri, atau memasukkannya dalam bagian huruf yang lain.

ا          ب          ت         ث          ج          ح          خ          د          ذ          ر          ز          س          ش          ص     ض          ط         ظ          ع          غ          ف         ق        ك         ل          م           ن             و                   ه        لا          ي

Ra  =  ر Dzal    =  ذ Dal  = د Kha  = خ Ha    = ح Jim   =   ج Sa     =  ث Ta    =   ت Ba  =   ب Alif  = ا
Fa’ = ف Ghain =  غ ‘ain = ع Zha’ = ظ Tha’ = ط Dhat =  ض Shad = ص Syin =  ش Sin =  س Za    = ز
Ya= ي Lam alif= لا Ha    = ه Waw=  و Nun  =   ن Mim = م Lam =   ل Kaf =  ك Qaf = ق

Ulama yang berpendapat 30 huruf yaitu termasuk (ء) hamzah kedalam huruf tersebut, dan juga ulama yang berpendapat 31 huruf yaitu (ة) Ta Marbuthoh.

Pengertian mad

Mad menurut Bahasa berarti panjang. Sedangkan menurut istilah syara’ mad berarti memanjangkan bunyi huruf hijaiyah dengan ketentuan-ketentuan tertentu. Mad secara umum terbagi menjadi 2, yaitu mad thabi’I (asli) dan mad far’I (cabang).

Mad thabi’i

Seperti Namanya bahwa asli yaitu mad yang berdiri sendiri tanpa ada pengaruh lain-lain. Mad thabi’I ini sangat murni. mad thobi’I terjadi apabila:

  • Huruf berharakat fathah bertemu dengan alif : وَمَا هُم
  • Huruf berharakat kasroh bertemu dengan ya mati : فِي
  • Huruf berharakat dhommah bertemu dengan wawu mati : يَقُولُ

Panjangnya mad ashli/mad thobi’i adalah 1 alif atau 2 harokat, baik disaat washal maupun waqaf.

Mad far’I (cabang)

Sesuai dengan Namanya yaitu mad ini adalah mad cabang yang berasal dari mad asli. Menjadi mad far’I yang disebabkan oleh hamzah atau sukun. Mad far’I ini terbagi menjadi beberapa macam, yaitu:

  • Mad wajib muttasil

Mad wajib muttasil ini adalah mad yang terjadi apabila mad asli bertemu dengan hamzah dalam satu kata. Cara membaca mad wajib muttasil adalah memanjangkan mad menjadi 5 harakat atau 2 setengah alim harakah.

Contoh :    شَآءَ

  • Mad jaiz munfashil

Berbanding terbalik dengan mad wajib muttasil, mad jaiz munfashil ini adalah mad yang terjadi apabila mad asli bertemu dengan hamzahpada kata yang berbeda. Cara membaca mad jaiz munfashil adalah dengan memanjangkan 2 – 5 harakat (1,2 dan 2 setengah alif).

Contoh :     إِنِّيْ أَخَافُ

  • Mad lin atau mad lain

mad lin ini terjadi pada huruf berbaris atas (fathah dan zhummah) bertemu dengan huruf ya (ي) atau waw (و) bertanda sukun, sedangkan di depannya ada satu huruf dimatikan karena waqaf (berhenti). Contoh:     مِنْ خَوْفٍ

cara membaca mad lin ini adalah memanjangkan huruf mad 2,4 atau 6 harakat tergantung kondisi mau pilih yang mana. Sebagai catatan mad lin ini hanya terjadi jika waqaf (berhenti)

  • Mad badal

Mad badal terjadi jika hamzah (ء) bertemu dengan huruf-huruf mad. Membaca mad ini adalah dengan memanjangkan mad 2 harakat.

Contoh:    إِيْـمَانًا

  • Mad farq

Mad farq ini adalah mad yang berhasil dari hasil pertemuan mad badal dan huruf yang bertasydid. Namun yang membedakan hamzah tersebut adalah hamzah bertanya “apakah?” itulah kenapa kenapa disebut sebagai mad farq. Mad farq ini juga dikenal dengan nama mad istifham (pertanyaan). Panjang mad ini adalah 3 alif atau 6 harakat.

Di dalam Al-Qur’an, kasus Mad Farqi ini hanya terjadi pada 4 tempat saja, yaitu pada :

  1. Surat Al-An’am (6) ayat 143 -144
  2. Surat Yunus (10) ayat 59
  3. Surat An-Naml (27) ayat 59
  4. Mad ‘iwad

Berhentinya bacaan pada tanwin di akhir kalimat disebut dengan mad ‘iwad. Mad iwad yang dimaksudkan di sini adalah bacaaan panjang pada akhir kata/kalimat sebagai pengganti dari suara tanwin fathah yang tidak berbunyi lagi karena bacaan di waqaf kan.

Cara membacanya adalah 1 alif atau 2 harakat.

Contohnya: عَجُوْلًا ← عَجُوْلَا

  • Mad lazim harfi musyba’

Mad ini terjadi hanya pada permulaan surat di dalam Al-quran. huruf-huruf yang termasuk mad lazim harfi musyba’ itu ada 8 yaitu:       ن     ق     ص     ع     س     ل     ك    م

Panjang bacaannya adalah 3 alif atau 6 harakat.

Mad lazim harfi musyba’ ini terbagi menjadi 2 bagian:

  • Mad lazim harfi musyba’ mutsaqqal, yaitu mad harfi dengan bacaan yang berat akibat terjadi proses peng idghoman. Cara membacanya juga 3 alif atau 6 harakat. Huruf-hurufnya adalah: ل، م، س

Contoh: الــمّ

  • Mad lazim harfi musyba’ mukhaffaf, berbanding terbalik dengan mutsaqqal, mad ini adalah mad harif yang di baca ringan. Karena memang pada mad ini tidak terdapat peng idghoman. Panjang bacaannya sama yaitu 3 alif atau 6 harakat. Hurufnya ada 5 yaitu: ن، ق، ص، ع، س، ل، ك، م

Contoh: كــهــيــعــص

  • Mad Lazim Muthaqqal Kalimi

Mad ini terjadi apabilang mad asli bertemu dengan huruf bertasydid dalam satu kata. Mad ini dibaca 3 alif atau 6 harakat.

Contoh: مِنْ دَآبَّة

  • Mad lazim mukhafaf kalimi

Mad Lazim Mukhaffaf Kalimi terjadi apabila huruf mad bertemu oleh huruf yang berbaris sukun dalam satu kata. Hanya terdapat pada 2 tempat di dalam Al-Quran yaitu pada QS: Yunus: 51 dan QS: Yunus: 91

Panjang bacaan mad ini adalah 3 alif atau 6 harakat.

Contoh: آلأنَ

  • Mad Silah Qasirah

mad yang terjadi apabila “ha dhamir” (kata ganti) berada di antara dua huruf yang berbaris (bukan huruf mati).

Panjang bacaan mad ini 1 alif atau 2 harakat.

Contoh: إِنَّهُ كَانَ

  • Mad silah thawilah

Mad Silah Tawilah adalah mad yang terjadi jika “ha dhamir” (kata ganti) bertemu huruf hamzah yang berbaris dan huruf sebelum “ha dhamir” tersebut juga berbaris.

Panjang bacaan mad ini adalah 4 atau 5 harakat / 2 atau 2 setengah alif.

Contoh: عِنْدَهُ إِلَّا

  • Mad Arid Lissukun

Mad Arid Lissukun terjadi di ketika berhenti (waqof) di akhir ayat sehingga mematikan huruf terakhir sedang sebelum huruf yang dimatikan tersebut terdapat mad asli.

mad ini dibaca Panjang 2-6 harakat atau 1-3 alif.

Contoh: مُوْء مِنِيْنَ

  • Mad tamkin

Tamkin secara Bahasa adalah tetap (penetapan). Sedangkan menurut istilah mad tamkin adalah pertemuan dua huruf ya’ (ي) dalam satu kata. Ya’ yang pertama berharakat kasrah dan bertasydid sedangkan ya’ yang kedua berharakat sukun atau mati.

Panjang bacaannya adalah 2-6 harakat atau 1-3 alif.

Contoh: مِنَ النَّبِيِّيْنَ

Nun Mati (sukun) atau Tanwin

Hukum nun mati (Sukun) atau tajwid merupakan salah satu hukum tajwid di dalam Al-quran. jadi bila nun mati atau berharakat tanwin bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah, maka akan terjadi 4 hukum bacaan. Yaitu:

  • Izhar
  • Ikhfa
  • Iqlab
  • Idgham

selengkapnya di hukum bacaan nun mati dan tanwin

Mim Mati atau Tanwin

hukum mim mati (sukun) atau tanwin merupakan salah satu hukum tajwid yang digunakan dalam membaca al-quran. jadi saat membaca al-quran kemudian berjumpa dengan mim (sukun) atau tanwin berlaku lah hukum mim mati (sukun) atau tanwin dengan 3 pembagian. Yaitu:

  • Ikhfa’ Syafawi
  • Idgham Mimi
  • Idzhar Syafawi
  1. Ikhfa’ Syafawi

Ikhfa syafawi berarti menyamarkan bacaan di bibir. Ikhfa syafawi ini terjadi apabila mim mati (sukun) bertemu dengan huruf ب (ba’). Cara membacanya dengan menyamarkannya di bibir sambi mendengungkannya.

Contoh:                      دَخَلْتُمْ بِهِ ن

  1. Idgham Mimi

Idgham mimi sering disebut juga Idgham Mutamatsilain Cara membacanya adalah seperti menyuarakan mim rangkap atau mim yang ditasydidkan. Idgham Mimi terjadi apabila mim mati bertemu dengan huruf mim.

Contoh:                      وَلَكُمْ مَا كَسَ بْتُمْ

  1. Idzhar Syafawi

Izhhar berarti menjelaskan menyamarkan, sedang syafawi berarti bibir. Jadi, Izhhar Syafawi berarti membaca dengan jelas di bibir. Izhhar Syafawi terjadi apabila mim mati bertemu dengan huruf-huruf hijaiyah selain ba’ (ب ) dan mim ( م). Cara membacanya dengan menyuarakan mim mati dengan jelas di bibir serta mulut tertutup.

Contoh :       اَنْعَمْتَ

Hukum Bacaan Ra’

Hukum bacaan ra’ adalah hukum bagaimana membunyikan huruf ra’ ketika membaca alquran. Ketika huruf hijaiyah bertemu dengan ra’ terdapat 3 hukum bacaan ra’, yaitu:

  • Tafkhim (Tebal)
  • Tarqiq (Tipis) dan
  • jawazul wajhain (Boleh tebal boleh tipis)
  • Tafkhim

Tafkhim menurut bahasa adalah tebal, sedangkan menurut istilah Tafkhim (تَفْخِيْمُ) adalah menebalkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf tertentu dengan cara mengucapkan huruf di bibir (mulut) dengan menjorokkan ke depan. Cara membacanya yaitu dengan bibir sedikit kemuka atau monyong.

Ra dibaca tafkhim ketika:

  • Ra berharkat fathah (رَحْمَةَ اللهِ)
  • Ra bertanda baca dammah (رُفِعَتْ)
  • Ra bertanda sukun( mati), lagi huruf di belakangnya berbentuk huruf yang difathah (مَرْحَبًا)
  • Ra sukun sebelumnya huruf yang berbaris fathah atau dhummah (عُرْيَانًا)
  • Ra yang bertanda baca sukun, huruf di belakangnya berbentuk huruf yang dikasrah, tetapi kasrah ini bukan asli namun baru tiba (اِرْجِعِيْ)
  • Ra bertanda baca sukun, sedang huruf di belakangnya berharakat kasrah asli dan sesudah ra bertemu dengan huruf isti’la (يَرْضَاهُ)

baca juga: kelengkapan yang ditawarkan islam

  • Tarqiq

Menurut bahasa Tarqiq (تَرْقِيْقٌ) adalah tibis sedangkan menurut istilah Tarqiq (تَرْقِيْقٌ) adalah membunyikan huruf-huruf tertentu dengan suara atau bacaan tipis. dan Cara membacanya yaitu dengan menarik bibir sedikit mundur sehingga agak meringis.

Ra dibaca tarqiq ketika:

  • Ra berharkat kasrah (رِحْلَةَ الشّتَاءِ)
  • Ra sukun sebelumnya huruf berharkat kasrah dan sesudahnya bukanlah huruf Ist’la’ (مِرْيَةٍ)
  • Ra sukun sebelumnya huruf yan berharkat kasrah dan sesudahnya huruf Ist’la’ dalam kata yang terpisah (صَبْرًا)
  • Ra sukun karena wakaf, sebelumnya huruf berharkat kasrah atau ya sukun (جَمِيْعٌ مُنْتَصِرٌ)
  • Ra sukun karena wakaf sebelumnya bukan huruf huruf Isti’la’dan sebelumnya didahului oleh huruf yang berbaris kasrah (ذِيْ الذِّكْر)

baca: hanya klarifikasi air ini yang boleh digunakan untuk bersuci

  • Jawazul Wajhain (Boleh tebal boleh tipis)

jawazul wajhain ( جواز الـوجـهـيـن ) secara bahasa artinya boleh wajah dua , sedangkan menurut istilah jawazul wajhain adalah ra yang boleh dibaca tafkhim (tebal) atau tarqiq (tipis).

  • Jika ada ra sukun didahului oleh huruf berharakat kasrah sesudahnya ada huruf  isti’la berharakat kasrah atau Kasratain  (مِنْ  عِرْضِهِ)
  • Ra sukun karena wakaf, sebelumnya huruf Isti’la’ yang berbaris mati, yang diawali dengan huruf yang berharkat kasrah (الْقِطْرِ)

Hukum Alif Lam

Dalam membaca al-quran harus diperlukan pemahaman tajwid yang bagus, hukum alif lam (ال) juga salah satu pembagian dalam hukum tajwid lainnya. Jika alif lam (ال) bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah maka cara baca alif lam (ال) tersebut menjadi dua macam, yaitu alif lam (ال) qamariyah dan alif lam (ال) syamsyiah.

  • alif lam (ال) qamariyah

“Al” Qamariyah adalah “Al” atau alif lam mati yang bertemu dengan salah satu huruf qamariyah dan dibacanya jelas/izhar. Ciri-ciri alif lam (ال) qamariyah yaitu Ada tanda sukun ( ) di atas huruf alif lam mati.

Huruf-huruf tersebut adalah: ا  ب  ج  ح  خ  ع  غ   ف   ق   ك   م   و  ه   ي

Contoh:                وَالْحَمْدُ

  • alif lam (ال) syamsyiah

“Al” Syamsiyah adalah “Al” atau alif lam mati yang bertemu dengan salah satu huruf

syamsiyah dan dibacanya lebur/idghom (bunyi “al’ tidak dibaca). Ciri-cirinya yaitu Ada tanda tasydid/syiddah ( ) di atas huruf yang terletak setelah alif lam mati.

Huruf-hurufnya adalah:     ت   ث   د   ذ   ر   ز   س   ش   ص   ض   ط   ظ   ل   ن

Contoh:                وَالضّحَى

Kalkalah/Qalqalah

Kalkalah atau qalqalah (dalam Bahasa arab) adalah melafalkan huruf-huruf tertentu dalam satu kalimat dengan suara memantul dari makhrajnya karena huruf tersebut berharakat fathah, dammah atau kasrah yang dibaca sukun karena berhenti. Atau huruf yang memantul apabila huruf tersebut mati atau dimatikan. Huruf qalqalah ada 5 yaitu:   ق ط ب ج د

Qalqalah terbagi menjadi dua macam, yaitu:

  • Qalqalah kubra
  • Qalqalah sugra

baca juga: pengaruh dan kontribusi pesantren dalam perdamaian dunia

  • Qalqalah kubra

Sesuai dengan Namanya, yaitu Kubra berarti besar. Maka qalqalah kubra dapat diartikan qalqalah yang besar. Menurut bacaannya qalqalah kubra ini terjadi apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu dimatikan karena waqaf atau berhenti. Dalam keadaan ini, qalqalah dilakukan apabila bacaan diwaqafkan tetapi tidak diqalqalahkan apabila bacaan diteruskan. Cara membacanya harus lebih mantap dengan memantulkan suara dengan pantulan yang kuat.

Contoh;                ٱﻟْﻔَﻟَﻖِ

  • Qalqalah sugra

Sugra berarti kecil, adi sesuai dengan Namanya qalqalah sugra bermakna qalqalah yang kecil atau dengan kata lain pantulannya tidak terlalu kuat. Qalqalah sugra terjadi yaitu apabila salah satu daripada huruf qalqalah itu berbaris mati dan baris matinya adalah asli karena harakat sukun dan bukan karena waqaf. Dan huruf qalqalah yang terletak di pertengahan kata yang berharakat sukun. Cara membacanya dengan pantulan yang tidak terlalu kuat.

Contoh;                يَقْبَلُ

Wakaf

Wakaf dari sudut bahasa adalah pemberhentian pengucapan. Sementara itu, dari sudut istilah tajwid, wakaf adalah penghentian bacaan sejenak dengan memutuskan suara di akhir perkataan untuk bernapas dengan tujuan ingin menyambungkan kembali bacaan. Wakaf ini terbagi menjadi empat macam yaitu:

  • تام (tāmm)
  • كاف (kāf)
  • Hasan
  • qabih

  • tāmm Tamm juga disebut dengan wakaf sempurna yaitu pemberhentian pada suatu bacaan yang dibaca secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, dan tidak memengaruhi arti dan makna dari bacaan karena tidak memiliki kaitan dengan bacaan atau ayat yang sebelumnya maupun yang sesudahnya.
  • Kāf Kaf sering disebut wakaf memadai yaitu pemberhentian pada suatu bacaan secara sempurna, tidak memutuskan di tengah-tengah ayat atau bacaan, tetapi ayat tersebut masih berkaitan makna dan arti dari ayat sesudahnya.
  • ḥasan hasan juga di sebut dengan wakaf baik yaitu mewakafkan bacaan atau ayat sesudahnya.
  • Qabih qabīḥ atau wakaf buruk yaitu pemberhentian bacaan secara tidak sempurna atau penghentian bacaan di tengah-tengah ayat. Wakaf ini harus dihindari, karena bacaan yang diwakafkan masih berkaitan lafaz dan akan membuat maknanya dengan bacaan berlainan.

Tanda wakaf

Dalam al-quran juga akan kita dapati tanda-tanda wakaf, tujuannya agar memudahkan kita membaca al-quran. tanda wakaf pun beragam, sesuai dengan ketentuan dan fungsinya. Jadi saat kita menjumpai tanda wakaf tersebut, sesuai dengan tandanya akan langsung kita aplikasikan. Berikut tanda wakaf disertai dengan keterangannya;

  • ( مـ ) Tanda mim, disebut juga dengan wakaf lazim, adalah penghentian di akhir kalimat sempurna. Wakaf lazim disebut juga sebagai wakaf tāmm (sempurna) karena wakaf terjadi setelah kalimat sempurna dan tidak ada kaitan lagi dengan kalimat sesudahnya. Tanda mim ( م ), memiliki kemiripan dengan tanda tajwid iqlab, tetapi sangat jauh berbeda dengan fungsi dan maksudnya.
  • ( ) Tanda ṭa, adalah tanda wakaf mutlak sehingga diwajibkan untuk berhenti.
  • ( ) Tanda jim, adalah wakaf jaiz, jadi boleh berhenti dan boleh melanjutkan bacaan.
  • ( ) Tanda ẓa, menandakan lebih baik tidak berhenti.
  • ( ) Tanda ṣad, disebut juga dengan wakaf murakhkhas, menunjukkan bahwa lebih baik tidak mengentikan bacaan, tetapi diperbolehkan berhenti saat dkeadaan darurat dan tanpa mengubah makna. Perbedaan antara hukum tanda ẓa dan ṣad terletak pada fungsinya; dalam kata lain, lebih diperbolehkan berhenti pada wakaf ṣad.
  • ( ﺻﻠﮯ) Tanda ṣad lam ya, merupakan singkatan dari al-waṣal awlā yang bermakna “wasal atau meneruskan bacaan lebih baik”. Maka dari itu, meneruskan bacaan tanpa mewakafkannya lebih dianjurkan.
  • ( ) Tanda qaf ,merupakan singkatan dari qīla alayhil waqaf yang bermakna “boleh berhenti pada wakaf sebelumnya”. Maka dari itu, lebih baik meneruskan bacaan walaupun boleh diwakafkan.
  • ( صل ) Tanda ṣad lam, merupakan singkatan dari qad yūṣalu yang bermakna “kadang kala boleh diwasalkan”. Maka dari itu, lebih baik berhenti walau kadang kala boleh diwasalkan;
  • ( ﻗﻴﻒ ) Tanda qif, artinya lebih dianjurkan untuk berhenti. Tanda tersebut biasanya muncul pada kalimat yang biasanya diteruskan oleh sang pembaca tanpa berhenti.
  • ( س ) Tanda sin atau ( ﺳﮑﺘﻪ) tanda saktah menandakan pemberhentian sejenak tanpa mengambil napas, baru untuk meneruskan bacaan.
  • ( ﻭﻗﻔﻪ) Tanda waqfah, bermakna sama seperti ( ﺳﮑﺘﻪ) wakaf saktah, tetapi harus berhenti lebih lama tanpa mengambil napas.
  • ( ) Tanda ,menandakan pelarangan penghentian. Tanda ini muncul kadang-kala pada penghujung maupun pertengahan ayat. Jika muncul di pertengahan ayat, maka tidak dianjurkan untuk berhenti. Jika berada di penghujung ayat, sang pembaca boleh berhenti dan boleh tidak.
  • ( ) Tanda kaf, merupakan singkatan dari kaṭālik yang bermakna “serupa”. Dengan kata lain, makna dari wakaf ini mirip dengan wakaf yang sebelumnya muncul.
  • ( ... ...) Tanda titik tiga, disebut sebagai wakaf muraqabah atau wakaf ta’anuq, yang berarti “terikat”. Wakaf ini bisa muncul sebanyak dua kali di mana saja, dan dibaca dengan berhenti di salah satu tanda tersebut. Jika sudah berhenti pada tanda pertama, tidak perlu berhenti pada tanda kedua, dan sebaliknya.

Demikianlah hukum-hukum tajwid yang ada di dalam al-quran lengkap, semoga dapat membantu kita dalam membaca al-quran. bahwasannya al-quran merupakan hal utama dalam islam maka dari itu jangan lupa untuk membaca al-quran di setiap harinya. salam mudahnya islam

ingin menjelaskan pada dunia betapa mudahnya islam, asalkan ingin mengerjakannya semua akan terlihat mudah.

2 Balas ke “Hukum Tajwid Lengkap Beserta Contohnya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *